Kamis, 17 November 2011

Mengapa Anda Harus Membaca Buku?!


Bukan cuma untuk alasan pengetahuan. Lebih dari itu, buku-buku di lemari Anda adalah cerminan kepribadian dan cara berpikir Anda.
Oleh: Nuzul Akbar Nazar

Rudolf, KAWAN SAYA , tiba-tiba tampil ekspresif, liar, gila, dengan kostum ajaibnya. Seluruh redaksi Men's Health Indonesia hanya bisa ternganga, karena dalam kesehariannya Rudolf adalah teman yang sopan, penyendiri, dan pendiam. Yah, itu acara outing kami dimana ada satu sesi ketika panitia meminta para peserta untuk tampil keren ala artis era 70-an. Dan Rudolf tampil begitu ... beda. Kok bisa? "Mungkin kerasukan jin di pesisir pantai Anyer," kata beberapa rekan wanita. Pernyataan yang justru membuat kami melewati malam dengan kurang tenang.

Seperti biasanya wartawan yang selalu ingin tahu, maka setelah sampai di kantor kami mengintip perabotan-perabotan di bawah meja kerja Rudolf. Ya, jangan-jangan dia teroris Nurdin M. Top yang sedang menyamar. Atau, seorang pembunuh dengan spesialisasi memutilasi korbannya. Tapi tidak! Kami hanya menemukan bebrapa novel anak-anak karya Enid Blyton, Astrid Lindgreen, Bung smas, plus kompilasi cerita thriller Alfred Hitchcock. Buku-buku yang merangsang imajinasi seseorang! Kini kami paham mengapa di balik sosoknya yang pendiam, ia bisa juga "gila". 

Contoh lain, Denny Hariandja. Sikapnya yang tenang tidak bisa 'membunuh' daya pikirnya yang meledak-ledak. Penuh ide liar. Dia adalah pecinta buku-buku klasik barat, sekaligus pecinta Che Guevara dan buku-buku 'kiri' lainnya. Bayangkan ketika pikiran kapitalis dan sosialis bergabung sekaligus dalam satu otak. Dahsyat!

Lalu saya merujuk pada diri sendiri yang begitu mencintai roman sejarah. Alhasil, perjalanan hidup saya adalah balutan romantisme, ketika logika terkadang bercampur dengan perasaan.

Begitu berpengaruhkah buku-buku pada hidup kita?

"Tentu saja! Satu buku mungkin kurang ada imbasnya, tetapi Anda bisa merasakan manfaatnya setelah membaca tiga sampai lima buku. Hal itu perlahan-lahan akan ikut menentukan cara pandang, sistematika berpikir, dan pengetahuan Anda, "kata Hypnotherapist kondang, Romy Rafael .

BUKAN CUMA PENGETAHUAN
Buku adalah gudang ilmu-semua orang tahu itu. Bahwa Anda dan saya membutuhkan buku sebagai sumber referensi, itu sudah jadi hukum alam. Namun, lebih dari itu, buku menunjukkan siapa Anda.

Menurut seorang pakar syaraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, DR. dr.Jan Sudir Purba., MD, Ph.D., "Ketika Anda melihat sesuatu, otak akan bekerja mengolah dan menerjemahkan informasi demi informasi yang dilihat oleh mata, sehingga akan memicu proses aktivasi sel otak yang satu dengan lainnya. Sel otak tidak bisa bekerja sendiri-sendiri, karena otak terdiri dari kumpulan sel-sel yang saling berinteraksi layaknya networking. "

Jadi ketika Anda membaca kumpulan huruf WINE dalam sebuah buku, maka otak Anda akan langsung mengidentifikasi bahwa wine umumnya berwarna merah hati atau putih, sanggup membuat tubuh Anda hangat, ada konten alkoholnya, dan jika imajinasi Anda sangat hebat ... barangkali Anda sanggup membayangkan sebuah makan malam romantis bersama si Dia dengan sebotol wine Prancis keluaran tahun 1987, lalu Anda seakan bisa mencium baunya, bahkan menyesap rasanya ketika melewati lidah, ah !

Singkatnya, hanya membaca kata WINE, otak Anda telah merangkum berbagai informasi yang Anda tahu tentang wine. Bayangkan, jika ribuan kata-kata yang ada dalam sebuah buku begitu merasuk dalam otak Anda-maka Anda bisa tertawa terbahak-bahak, menangis, ikut merasa kehilangan, gembira, dan sebagainya. Bisa jadi, Anda akan lebih cepat ereksi membaca karya Enny Arrow ketimbang menonton keping DVD Maria Ozawa. Ini adalah bukti bahwa membaca sangat menstimulasi otak Anda.

"Untuk menstimulasi otak Anda secara maksimal, ada baiknya Anda tidak sekedar membaca, tetapi juga memahami isi serta mengartikan apa yang dibaca. Sehingga sel-sel otak Anda akan bekerja lebih aktif, "kata Dr. Jan.

Suatu penelitian tentang brain-imaging menunjukkan bahwa para pembaca menciptakan simulasi di dalam pikirannya tentang suara, pemandangan, rasa dan gerakan yang digambarkan dalam sebuah teks narasi, sementara pada waktu yang bersamaan, beberapa bagian otaknya menjadi aktif seakan-akan sedang mengalami hal serupa di alam nyata. "Ketika kita membaca suatu cerita dan benar-benar memahaminya, kita menciptakan simulasi mental dari deskripsi yang ada di dalam cerita," kata Jeffrey M. Zacks , salah seorang penulis penelitian tersebut dan direktur dari Dynamic cognition Laboratory di Washington University, Amerika Serikat.

Apa jadinya jika Anda membaca puluhan buku?
Ini ilustrasi mengenai Dhanny, seorang teman saya. Dia senang sekali membaca buku horor-ratusan dalam lemari bukunya. Saya membayangkan ada tiga kemungkinan yang terjadi pada dirinya: Menjadi penakut, menjadi sangat tidak peka terhadap rasa takut, dan terakhir ... menjadi ghostbuster . (Saya rasa, ia ada dalam kemungkinan ketiga ...)
Buku, khususnya jenis buku yang Anda baca, sangat mengidentifikasi diri Anda.

BUKU DAN ALAM BAWAH SADAR
Semakin banyak Anda membaca buku, biasanya Anda semakin terampil berpikir sistematis. Yap! Selain otak Anda dirangsang secara terus-menerus untuk menghubungkan rangkaian informasi, buku-buku yang Anda baca pun –apalagi jika berbentuk jurnal ilmiah, sangat mengandalkan sistematika berpikir. Hal ini kemudian menjadi kebiasaan yang diadopsi oleh otak Anda secara tidak sadar. 

Kapan buku begitu memengaruhi alam bawah sadar Anda? “Menjelang, dan saat baru saja bangun tidur,” kata Romy. “Karena saat kita bangun tidur, alam bawah sadar masih dalam keadaan kosong sehingga informasi akan lebih mudah direkam di otak. Menjelang tidur juga menjadi kondisi terbaik untuk alam bawah sadar dalam merekam sesuatu, karena saat itu biasanya Anda merasa sangat relaks.”

Namun menurutnya, ada syarat utama agar Anda bisa mendapatkan informasi secara maksimal dari sebuah buku. “Anda mesti mengosongkan pengetahuan Anda terlebih dahulu. Jadilah murid teladan ketika Anda membaca dan jangan bersikap layaknya komentator yang siap memperdebatkan isi buku tersebut.” 
Jika hal di atas bisa Anda lakukan, maka barangkali Anda akan mendapatkan 5 M manfaat membaca:
  1. Mempertahankan fungsi otak, termasuk konsentrasi dan daya ingat.
  2. Membekali diri dengan informasi dan ilmu pengetahuan.
  3. Melatih berpikir sistematis.
  4. Menghibur diri dengan membaca buku favorit, komik, atau pun yang bersifat jenaka.
  5. Menambal waktu luang dengan aktivitas yang berguna.
Sebenarnya masih ada satu manfaat hebat lainnya, yaitu, ketika Anda beranjak tua dan tetap membaca maka Anda memperkecil risiko menjadi pria pelupa.

BAGAIMANA PRIA SIBUK MEMBACA?
Maksud kami, kendala paling besar yang Anda hadapi untuk membaca adalah waktu. Berapa banyak sih waktu luang untuk pria aktif modern seperti Anda? Jangan khawatir, Romy Rafael menawarkan solusinya:Speed reading. Beberapa contohnya:

TANPA GAUNG. Maksudnya, meniadakan suara alam bawah sadar ketika Anda sedang membaca. Suara ini bersifat spontan dan terjadi setelah Anda membaca sesuatu yang membekas pada pikiran Anda. Misalnya Anda membaca ‘rendang nikmat’, suara batin Anda kemudian berkata, “Ah, rendang kan pedas.” Apapun spontanitas komentar yang keluar dari alam bawah sadar, disadari atau tidak akan membuat waktu membaca menjadi lebih lama.

NO RETURN. Jangan pernah berpikir untuk membuka kembali halaman yang telah Anda lewati. Anda ingin membaca dengan cepat, bukan menghapal materi ujian seperti saat kuliah dulu. Pada kondisi ini, hal terpenting yang harus Anda lakukan adalah mendapatkan ide atau gagasan besar dari buku yang sedang Anda baca.

PHOTO READING (Ini Yang Paling Ekstrem!)
  • Baca index buku yang biasanya terletak di bagian belakang buku, kemudian pahami keseluruhan daftar isi untuk mengetahui gambaran isi buku.
  • Baca semua judul, subjudul, dan semua bagian buku yang ditandai –baik dengan huruf tebal, miring, garis bawah, atau pun penandaan lain.
  • Agar Anda bisa dengan cepat menemukan huruf tebal, miring, garis bawah, atau pun penandaan lain, fokuskan mata pada tengah-tengah buku.
Setelah Anda mengetahui speed reading, mungkin Anda tak bisa lagi beralasan tidak punya waktu untuk membaca. Tapi menurut kami, alasan waktu selalu bisa direkayasa. Bukankah duduk di atas kloset sambil membaca bisa menjadi salah satu alternatif?


Nonton televisi versus membaca 
Orang yang lebih bahagia akan cenderung untuk bersosialisasi dan membaca koran, menurut penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 orang dewasa dalam kurun 34 tahun, di University of Maryland. Analisa dari penelitian tersebut menyatakan bahwa menonton televisi menjadi senang atau bahagia untuk sementara saja. Sedangkan bersosialisasi dan membaca memberikan benefit yang lebih tahan lama. Disimpulkan juga dalam penelitian tersebut, menonton televisi bisa disamakan sebagai suatu adiksi. 


Membaca yang berkualitas 
Siapkah Anda untuk menyerap segala informasi yang Anda baca dengan sempurna? Kenali persyaratannya: 

STANDAR KENYAMANAN. Pilih pencahayaan, posisi tubuh, dan suasana yang membuat Anda merasa nyaman. Anda membutuhkan penerangan yang sesuai sebab lampu yang terlalu terang akan menyebabkan mata cepat lelah.Sebaliknya, lampu yang terlalu redup malah menyulitkan membaca buku-khususnya buku yang huruf-hurufnya kecil. Posisi membaca yang paling ideal adalah duduk bersandar dengan alas yang nyaman pada punggung dan bokong. Untuk Anda yang hobi membaca sambil tertelungkup, umumnya akan merasa pegal pada leher, punggung bagian atas, pinggang, dan tangan yang menjadi penopang tubuh saat membaca. Efeknya, Anda akan jadi cepat lelah. Tapi semua tergantung kebiasaan masing-masing ... 

TENTUKAN TUJUAN ANDA MEMBACA. Apa yang ingin Anda dapatkan dari membaca sebuah buku? Langkah berikutnya, jadikanlah membaca sebagai kebutuhan utama. Biasakan membaca di mana dan kapan pun Anda berada. Efeknya, Anda akan terbiasa untuk mengisi waktu luang dengan membaca. 

PILIH JENIS BUKU SESUAI MINAT. Cari buku yang membuat Anda tertarik untuk segera membacanya. Jangan paksakan mood Anda. Kecuali Anda memang diharuskan membaca deretan huruf dan angka yang ribet-oleh bos Anda! (Tapi itu kan pekerjaan, bung!) 

JARAK PANDANG. Program jarak antara mata dan buku sejauh 25-30 cm.Jarak yang terlalu dekat akan membuat mata cepat lelah, sedangkan jarak yang terlalu jauh akan membuat kornea mata bekerja ekstra keras. Akhirnya, Anda sulit berkonsentrasi. 

TINGGALKAN JEJAK. Berilah tanda, Highlighter , garis bawah, atau catatan kecil, untuk menandai kata demi kata dalam bagian isi buku yang Anda anggap penting. Hal ini bisa membantu memperkuat daya ingat akan isi bacaan, dan tentu saja memudahkan ketika suatu saat Anda ingin kembali pada bagian tersebut. 

MOMEN TERBAIKUntuk membaca berkualitas, lakukan saat kondisi tubuh dan otak Anda sedang dalam kondisi terbaik -tanpa beban dan tekanan pikiran. Ketika otak dan fisik dalam situasi terbaik, maka yang Anda baca akan lebih mudah terserap. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar